Rabu, 23 September 2015

Mekanisme Kerja Ozonisasi dalam Aquakultur (Tugas Paper Mata Kuliah Kualitas Air)

       Ozonisasi merupakan sutu desinfektan yang kuat, ozon ( O3 ) dinilai memiliki kemampuan yang sangat tinggi untuk meningkatkan kualitas air jika digunakan dengan benar ( Bullock et al., 1997 dalam Ayu Ningsih, 2012 ). Manfaat ozonisasi dalam proses pengelolaan air pada budidaya yaitu : ( 1 ) Ozon memiliki efektifitas tinggi dalam membunuh pathogen, ozon merupakan oksidator yang kuat menghasilkan oksida-oksida metal tidak larut dan dapat menjadi suatu metode penghilangan yang lebih efektif. ( 2 ) Ozon merupakan oksidator yang kuat untuk mengoksidasi amoniak ( NH3 ), menghilangkan warna dan bau, mengurangi turbiditas ( TSS ), dan mendegradasi bahan organic lainnya dalam perairan. ( 3 ) Ozon dapat digunakan untuk mengendapkan mineral, bahan logam dan bahan lainnya. ( 4 ) Ozon dapat digunakan dalam proses demineralisasi. ( 5 ) Ozon akan menghasilkan oksida-oksida metal tidak larut dan dapat menjadi suatu metode penghilangan yang lebih efektif ( Ayu Ningsih, 2012 ).
       Untuk menjalankan manfaatnya dalam kegiatan budidaya ikan yang memiliki kemampuan untuk minngkatkan kualitas air, mekanisme kerja ozonisasi bekerja dengan cara menghasilkan oksida-oksida metal tidak larut karena ozon merupakan oksidator yang kuat dan dapat menjadi suatu metode penghilangan yang lebih efektif. Oksida-oksida metal tersebut dapat membunuh pathogen dengan cara merusak dinding sel pathogen sekaligus menguraikan bakteri tersebut ( Ayu Ningsih, 2012 ). Disinfeksi dengan ozonisasi adalah akibat langsung dari dinding sel bakteri disintegrasi, disebut juga dengan lisis. Karena sifat pathogen dan ozon berhubungan dengan potensi oksidasi yang tinggi ( Anonim, 2012 ). Sehingga semua pathogen yang ada dalam media budidaya dapat terurai akibat dari proses terjadinya ozonisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Ayu Ningsih. 2012. Take Home mma. http://www.slideshare.net/. ( Diaksses pada tanggal 30 Maret 2013 ).

Anonym. 2012. Pemurnian Air. http://id.prmob.net/ozon/ibu-alam/pemurnian-air-2628050.html. ( Diakses pada tanggal 30 Maret 2013 ). 

Soal UTS IPA Kelas IX

UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)

Nilai :
 


Nama                  :
Kelas                   : IX (Sembilan)
Mata Pelajaran  : IPA
Catatan:
Berdoalah sebelum mengerjakan soal. Kerjakan soal sesuai perintah!

 I.      Soal Pilihan Ganda (Pilihlah salah satu jawaban yang tepat!) Nilai : 25

1.      Gangguan yang menginfeksi kulit yang ditandai dengan timbulnya bercak lingkaran di kulit disebut…
a.       Psoriasis               b. Ringworm              c. Kanker kulit              d. Bidura
2.      Manakah pernyataan yang paling benar dalam siklus menstruasi berikut…
a.       Fase ovulasi, fase pra ovulasi, fase fase pasca ovulasi dan fase menstruasi
b.      Fase menstruasi, fase pra ovulasi, fase ovulasi dan fase pasca ovulasi
c.       Fase pra ovulasi, fase ovulasi, fase pasca ovulasi dan fase menstruasi
d.      Fase menstruasi, fase ovulasi, fase pra ovulasi dan fase pasca ovulasi
3.      Sel saraf disebut juga dengan….
a.       Reseptor                      b. Dendrit                    c. Neuron                d. Akson
4.      Berikut ini adalah upaya yang dapat dilakukan makhluk hidup untuk melestarikan jenisnya, kecuali…
a.       Penyesuaian diri             b. Adaptasi          c. Reproduksi         d. Iritabilitas
5.      Pada indera mata, sel kerucut berfungsi sebagai…
a.       Melihat di tempat yang gelap
b.      Mengatur intensitas cahaya yang masuk ke mata
c.       Melihat di tempat yang terang
d.      Membentuk warna pada mata
6.      Protein yang diperlukan oleh sel batang agar bisa berfungsi adalah…
a.       Iodopsin              b. Rodopsin              c. Vitamin A              d. Vitamin C
7.      Yang merupakan adaptasi tingkah laku adalah…
a.       Ikan air laut menghasilkan urine yang lebih pekat dibandingkan ikan air tawar
b.      Tubuh manusia mampu menambah jumlah sel darah merah apabila berada di pegunungan yang lebih tinggi
c.       Cicak akan memutuskan ekornya pada saat berada dalam ancaman
d.      Itik memiliki selaput diantara jari-jarinya yang berfungsi untuk berenang
8.      Organ yang termasuk dalam sistem ekskresi terdiri dari…
a.       Kulit, paru-paru, ginjal dan hati
b.      Kulit, paru-paru, empedu dan hati
c.       Paru-paru, ginjal, empedu dan hati
d.      Ginjal, paru-paru, hati dan lambung
9.      Proses pembetukan sperma disebut…
a.       Spermatogenesis                                             c. Spermatogonium
b.      Oogenesis                                                        d. Oogonium
10.  Gangguan mata yang tidak bisa melihat benda dekat dengan jelas adalah…
a.       Miopi                b. Presbiopi              c. Hipermiopi             d. Hipermetropi

II.      Soal Benar Salah (Tulislah huruf “B” jika pernyataan benar atau “S” jika pernyataan salah pada kolom yang telah disediakan) Nilai : 25
s
 


1.      Pangkal lidah merupakan letak pengecap rasa manis.
2.     
B
s
Acquired Immune Disease Syndrom (AIDS).
3.      Cara kulit mengatur suhu tubuh adalah dengan mengeluarkan panas.
4.     
B
Untuk dapat melihat di tempat terang, sel kerucut memerlukan protein iodopsin.
5.     
B
Adaptasi fisiologi berlangsung di dalam tubuh, sehingga sulit diamati. 

III.      Essay (Jawablah pertanyaan di bawah ini!) Nilai : 50

1.      Jelaskan terjadinya gerak refleks pada manusia!
2.      Buatlah bagan/skema proses terbentuknya ovum (oogenesis)!


Selasa, 08 September 2015

Deskripsi Ikan Napoleon

Deskripsi Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus)

Kerajaan          : Animalia
      Filum               : Chordata
            Kelas               : Actinopterigyii
                  Ordo                : Perciformes
                        Famili              : Labridae
                             Genus              : Cheilinus
                                    Spesies             : Cheilinus undulatus (Russel, 2004)




Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) merupakan ikan berukuran besar berasal dari anggota familia Labridae, dengan ukuran bisa mencapai 2 meter dan berat 190 kg. Pola reproduksi hermafrodit protogini dengan sebaran di wilayah perairan India-Pasifik. Bagian muka memiliki guratan-guratan berwarna krem (kuning susu) yang saling tumpang tindih pada bagian hidung dan pipi, kemudian meluas ke atas badan dan seberang ujung sirip dada. Badannya disepuh dengan warna hijau cerah dan di bagian atas seluruh sirip-siripnya berwarna coklat. Ketika muda, ikan napoleon terlihat pucat dengan garis-garis vertikal lebih gelap. Begitu dewasa, warna tubuhnya menjadi hijau kebiru-biruan dengan garis-garis lebih jelas. Bibirnya menebal dan di belakang matanya terdapat dua garis pendek berwarna hitam. Bagian atas kepalanya pun, di atas mata menjadi benjol ke depan. Sisik tubuhnya berukuran besar. Pada ikan yang berukuran sedang, besar diameteer sisiknya mencapai 10 cm. ikan juvenil yang berukuran kecil berwarna hitam dan putih dan juvenil yang lebih besar akan berwana hijau kepucatan memiliki spot berwarna hitam pada beberapa sisiknya dan membentuk barisan memanjang sepanjang badannya. Ikan juvenil, pada profil bagian atas kepalanya lurus sejajar dengan matanya. Ikan dewasa berwarna hijau kebiruan, garis vertikal sisiknya berwarna hitam. Kepalanya berwarna biru kehijauan diselingi garis kuning tidak beraturan, serta bagian belakang sirip punggungnya dan sirip duburnya meruncing dan memiliki sirip ekor membulat dengan pinggiran berwarna kuning. (Randall et al. ,1978).
Pada ikan dewasa terdapat tonjolan pada bagian depan dan keplanya dan bibir tebal. Ikan jantan dapat mencapai panjang dua meter, sedangkan betinanya jarang sampai mencapai panjang satu meter. Individu ikan ini mencapai matang gonad pertama pada usia 5-7 tahun dengan ukuran sekitar 35-50 cm serta dapat mencapai umur 30 tahun (Choat et al, 2006).
Ikan napoleon berumur panjang namun pertumbuhannya lambat, sehingga reproduksinya rendah dan rata-rata recruitmentnya rendah. Dalam pertubuhannya, ikan ini melalu beberapa fase pertumbuhan yang dapat dilihat dari beberapa perbedaan bentuk dan warna tubuhnya (Sadovy, et al., 2003).
Habitat di daerah berkarang yang hidup pada daerah tropis. Kehidupan hewan ini umumnya soliter dan umumnya dijumpai pada kedalaman kurang dari 100 meter  (Froese dan Pauly, 2000).
Jenis makanannya berupa beberapa jenis sea urchin, molusca, echinodermata dan crustacean. Biasanya ikan berenang sendiri mencari makan didaerah dekat karang. Cara makannya yaitu dengan membongkar karang mati dengan gigi besarnya untuk mencari siput dan cacing-cacingan yang terkubur. (Myers, 1991).
Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) memiliki pola reproduksi yang bersifat hermaprodit protogini, yaitu ikan yang memiliki jenis kelamin jantan dan akan berubah menjadi ikan betina di saat ikan tersebut menjelang dewasa. Sehingga kadang ditemukan dominasi jantan pada satu populasi ikan kecil sampai ukuran sedang dan akan berubah menjadi dominasi populasi betina saat mendekati matang gonad. Ikan napoleon memiliki dua tipe, yaitu mereka yang terlahir sebagai jantan dan tetap sebagai jantan sejati sampai akhir hayat, dan mereka yang memulai hidup sebagai betina dan dalam masa kehidupan berikutnya berubah fungsi sebagai jantan. Perubahan menjadi betina biasanya terjadi setelah berumur 5 – 10 tahun atau berbobot badan kurang dari 10 – 15 kg. Ikan napoleon betina bertelur sepanjang tahun di pinggir atau bagian luar lereng terumbu karang. Proses bertelur ini terjadi dalam kelompok maupun berpasangan. Jika proses bertelur dilakukan secara pasangan, yang jantan menyiapkan tempat bertelur pada seonggok karang atau batu yang menyolok. Kemudian akan menarik perhatian betina yang lewat, yang kira-kira bisa memberi harapan. Caranya, di atas calon pasangan dia bergerak ke atas dan ke bawah dan menggetarkan tubuhnya sembari berenang kembali. Lalu ikan betina akan membalasnya dengan memberi sinyal ke ikan jantan. Ikan betina akan melengkungkan tubuhnya membentuk huruf “S” sembari mempertontonkan perut buncitnya yang berisi telur. Mereka kemudian bertelur dalam suatu gerakan naik turun secara cepat ke permukaan. Proses bertelur ini berlangsung singkat dalam suatu hari, tergantung pada kondisi setempat. Di areal dengan arus pasang surut yang kuat, bertelur terjadi hanya setelah puncak pasang naik, keadaan yang ideal untuk memindahkan telur ke luar terumbu karang (Randall et al. ,1978).
.
Daftar Pustaka
Choat et al, 2006. Age structure and growth in a large teleost, cheilinus undulatus, with a review of         size distribution in labrid fishes. Mar. Ecol. Prog. Ser. 318: 237-246.

Froese dan Pauly, 2000. Fish base 2000: concept, design and data source ICLARM, Manila.

Myers R. F., 1991. Micronesian Reef Fishes, 3rd ed. Coral Grapics, Guam: 330 pp

Randall J. E., S. M. HEAD and A. P. L. SANDERS. 1978. Food habits of the giant humphead wrasse, Cheilinus undulus (Labridae). Envirin. Biol. Fishes 3: 235-238. 
 
Sadovy, Y. J., M. Kulbicki, P. Labrosse, Y. Letourneur, P. Lokani and T. j. Donaldson. 2003. The Humphead Wrasse, Cheilinus undulus: Synopsy of a threadtened and poorly known giant coral reef fish. Fish biologi and fisheries. 13: 327-364.


Russell (2004). Cheilinus undulatus. 2006. IUCN Red List of Threatened Species. IUCN 2006. www.iucnredlist.org.     

MIKROBIOLOGI

·         Definisi  Antibiotik
Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri. (Wikipedia,2011).

·         Definisi  Antibiotik  Spektrum
Antibiotic spectrum adalah jenis antibiotik yang hanya aktif terhadap bakteri tertentu, termasuk bakteri gram-positif seperti Staphylococcus aureus dan Streptococcus (Kamus keshatan. 2011).

·         Definisi Bakterisidal
Bakteriosidal atau bakterisidal adalah zat yang bersifat membunuh bakteri, tidak hanya mencegah mereka berkembang biak. Bandingkan dengan bakteriostatik (Kamus keshatan. 2011).

·         Definisi Bakteriostatik
Bakteriostatik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu zat yang menghentikan pertumbuhan bakteri (seperti antibiotik). (Kamus keshatan. 2011).

·         Prinsip Desinfektan yang Efektif
             Prinsip desinfektann dalam mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme berbeda-beda antara lain dengan merusak dinding, mengubah permeabilitas sel, menghambat kerja enzim, menghambat seintesis protein, dan asam nukleat dan sebagai anti metabolic (Dwidjoseputro, D. 1984). 
                Disinfektan digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan dan kontaminasi dengan mikroba. Pengendalian yang dimaksud artinya semua kegiatan yang dapat membunuh, menghambat, dan sebagai anti metabolik.
Mikroorganisme yang dihambat mempunyai proses penghambatan yang sama dan perbedaannya adalah sifat resisten yang berbeda-beda antara lain mikroorganisme satu dengan yang lainnya. Sifat resisten ini dapat dipengaruhi oleh kandungan lipid pada membran selnya. Teknik dan cara-cara yang digunakan dapat dengan cara fibrik atau kimiawi diantaranya dapat menggunakan senyawa-senyawa fenolik, alcohol, chlor, iodium, dan senyawa-senyawa lain yang mempunyai ciri komposisi molekuler yang dapat menyebabkan terjadinya reaksi (Dwidjoseputro, D. 1984).
Disinfektan merupakan proses yang mematikan semua mikroorganisme patogen dengan cara kimiawi atau fisik. Disinfeksi mempunyai daya kerja terhadap vegetatif dari mikroorganisme, tetapi belum tentu mematikan sporanya, sedangkan antiseptis merupakan proses yang mencakup inakvikasi atau mematikan mikroorganisme dengan cara kimiawi. Antiseptik dapat bersifat bakterisidal atau bakteri kostatik. Proses bakteri kostatik hanya menghentikan pertumbuhan bakteri. Istilah disinfeksi dan antiseptis secara umum sulit dibedakan, sehingga penggunaanya boleh dikatakan sinonim.(Lay,1990)
Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja desinfektan diantaranya yaitu: (Dwidjoseputro, D. 1984)
  • Kadar Desinfektan
Konsentrasi desinfektan tergantung pada bahan yang akan didesinfektan dan pada organisme yang akan dihancurkan. Konsentrasi yang tinggi dapat membunuh mikroorganisme tetapi jika kosentrasi rendah maka hanya sebatas menghambat pertumbuhannya saja tidak mampu mematikan.
  • Waktu yang Diberikan Kepada Desinfektan Untuk Bekerja
Waktu yang diperlukan mungkin dipengaruhi oleh banyak variabel, tetapi waktu yang cukup bagi desinfeksi untuk bekerja sangat membantu dalam menghambat atau membunuh mikroba.
  • Suhu Desinfektan
Semakin tinggi suhunya maka kerja desinfektan semakin cepat dan meningkat
  • Keadaan Medium sekeliling
Ph dan adanya benda asing yang mungkin dapat mempengaruhi kerja  disamping itu juga pengaruh dari jumlah dan tipe mikroorganisme yang ada dan keadaan desinfeksi.
 pertumbuhan desinfektan terhadap mikroorganisme adalah sebagai berikut :
  • Kerusakan pada dinding sel
Struktur dinding sel dirusak dengan cara menghambat pembentukannya atau mengubahnya setelah selesai membentuk.
  • Perubahan permeabilitas sel
Permeabilitas sel dirusak sehingga pertumbuhan sel terhambat dan sel akan mati.
  • Perubahan molekul protein
Protein akan terdenaturasi dan asam-asam nukleat rusak tanpa adanya perbaikan strukturnya kembali seperti semula.
  • Penghambat kerja Enzim.
Reaksi biokimia terhambat dan menyebabkan metabolisme terganggu atau sel akan mati.

DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D. 1984. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Surabaya
Kamus keshatan. 2011. Antibiotika. http://kamuskesehatan.com/arti/antibiotik/

Wikipedia. 2011. Antibiotika .http://id.wikipedia.org/wiki/Antibiotika

Ikan Hias Air Laut


Ikan Butana Biru (Acanthurus caeruleus)

Klasifikasi :
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Order: Perciformes
Family: Acanthuridae
Genus: Acanthurus
Species: A. coeruleus
Binomial name : Acanthurus coeruleus
(
Bloch & Schneider, 1801.)


Deskripsi fisik
Rentang panjang pada ikan hias Acanthurus caeruleus mencapai 39 cm. Ikan dewasa biasanya lebih dari 10 cm, ikan jantan lebih besar dari ikan betina. Ikan dewasa bias any memiliki  warna biru yang dalam dan terkadang ungu. Ikan dewasa mampu untuk sementara mengubah warna antara putih dekat-hitam dan pucat. Pergeseran warna dapat mencakup seluruh atau sebagian  tubuh ikan  dan berbeda antara kedua jenis kelamin. Dalam family achanturidae, Acanthurus coeruleus memiliki bentuk lateral dikompresi, bentuk ikan dengan mata tinggi, mulut yang subterminal, tulang belakang ekor kuning di pangkal ekor, dan sirip punggung yang berakhir pada pangkal ekor. Ikan muda  berwarna kuning cerah. Ikan muda  yang lebih tua berwarna biru atau oranye-coklat dengan garis-garis abu-abu. Tulang belakang ekor tajam ditemukan dalam alur horizontal pada gagang bunga dan dapat diperpanjang selama interaksi agresif. Acanthurus coeruleus memiliki 9 sirip dada, 26-28 sirip punggung, 3 sirip dubur, dan 24-26 sirip ekor (Bester, 2005; Deloach, 1999; MarineBio.com, 2005).


Habitat
Menurut Kuiter (1992), Perairan pantai tropis merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan karang, dan karang merupakan tempat hidup bagi sebagian besar ikan hias air laut, dan ikan – ikan jenis Achanturidae merupakan jenis ikan hias yang habitatnya di daerah terumbu karang.
Kvalvagnaes (dalam Djamali, 1998) memperkirakan bahwa perairan Indonesia merupakan daerah terkaya akan jenis-jenis ikan hias lautnya dibandingkan dengan beberapa Negara penghasil ikan hias lainnya, dimana Indonesia memiliki lebih kurang 253 jenis ikan hias air laut.
Diselatan Jawa Barat (Ujung Genteng, Pamengpeuk dan Pangandaran) telah ditemukan 98 jenis ikan hias dengan 87 jenis yang termasuk major families, salah satu jenis diantaranya yaitu suku Achanturoidae. Ikan hias yang memiliki nama Butane Biru (Achanturus Caeruleus) memiliki rentang kedalaman 2 sampai 40 meter (6,56 - 131,23 kaki) hidup pada perairan terumbu karang. Mereka juga dapat ditemukan di dekat karang lunak, puing, padang lamun, dan tempat alga. Ikan muda lebih memilih daerah dengan banyak penutup. Pemuliaan individu berkumpul di datar, daerah berpasir antara terumbu. Mereka berlindung di lubang dan celah-celah karang. Ikan butane kuning  dapat ditemukan pada kedalaman 2 sampai 40 meter. Dapat ditemukan di  Perairan terumbu karang yang tersebar dari Afrika hinggaPapua New Guinea (Froese, et al., 2003).
 Acanthurus coeruleus, hidup di daerah terumbu karang  dangkal di seluruh barat Samudera Atlantik, Teluk Meksiko, dan Laut Karibia. Daerah penangkapan ikan  hias air laut Achanturus caeruleus  berkisar dari New York di utara ke delta Amazon di Brasil. Mereka ditemukan timur ke Bermuda dan Pulau Ascension tetapi yang paling umum di Karibia, dan pesisir Florida dan Bahama (Bester, 2005; Froese, et al., 2003; MarineBio.com, 2005).

Metode Penangkapan
Alat tangkap yang digunakan oleh para nelayan untuk menangkap ikan Butana Biru (Achanturus caeruleus) biasanya menggunakan  jaring ikan hias yang khusus dan tanggok. Ada juga yang menggunakan jaring penghalang (barrier net). Namun ada juga yang menggunakan bubu (Puslitbang Oseanologi LIPI, 1992).
Adapun cara pengoperasian jarring penghalang (barrier net) yaitu dengan cara menyambungkan semua pemberat dengan menggunakan benang nylon, dengan jarak masing-masing pemberat antara 30 – 45 cm. Lakukan hal yang sama dengan pelampung, tetapi jarak antar pelampung 30 – 60 cm. Bentangkan jaring dengan mengikat setiap ujung jaring pada tongkat kayu. Letakkan jaring sedikit di atas tanah. Ini akan membuat perkerjaan lebih mudah. Jahit pemberat dan pelampung, masing-masing pada tiap sisi panjang jarring, kemudian jaring siap digunakan untuk dioperasikan dengan cara jaring dihadadangkan agar ikan terjerat dalam jaring tersebut, kemudian ikan – ikan yang terjerat dalam jarring tersebut diserok menggunakan serokan lalu dimasukan kedalam wadah yang telah disediakan (Puslitbang Oseanologi LIPI, 1992).


Biologi
Pada umumnya ikan hias air laut family Achanturidae merupakan jenis ikan pemakan alga, zoobenthos, bentik alga, dan fitoplankton. Pada spesies ikan hias Achanturus caeruleus  jantan  ukurannya lebih besar daripada ikan betina Tulang ekor pada ikan dewasa sangat tajam.Sirip-sirip ini dapat memotong sangat dalam ke dalam kulit manusia dan dapat pula menghasilkan infeksi, terutama ditandai dengan pembengkakan dan perubahan warna. Sakit dari infeksi tersebut dapat berlangsung selama jangka waktu yang lama, kadang-kadang berjam-jam. Beberapa spesies dari genus Acanthurus bahkan berpikir untuk memiliki kelenjar racun di duri ekor mereka (Wikipedia, 2010).


Daftar Pustaka

Bester, K. 2005. "Ichthyology at the Florida Museum of Natural History" (On-                                               line).Accessed September 13,2005 at http://www.flmnh.ufl.edu/fish/Gallery/Descript/BlueTang/BlueTang.html

Djamali, A. dan H. Mubarak. 1998. Sumberdaya perairan Ikan Karang in Potensi dan Penyebaran SDI Laut di Perairan Indonesia. Komisi Nasional Pengkajian Stok SDI Laut.LIPI,Jakarta

Froese, R., D. Pauly, D. Woodland. 2003. "Fish Base" (On-line). Accessed September 12, 2005 at http://www.fishbase.org/Summary/SpeciesSummary.php?id=944.

Kvalvagnes, K.1980.ornamental fish trade in Indonesia.Field Report UNDP/FAO                 National Park Development Project INS/78/061: 31

MarineBio.com, 2005. "Acanthurus coeruleus" (On-line). Marine Biology. Accessed September 12, 2005 at http://www.marinebio.com/species.asp?id=277.

PUSLITBANG OEANOLOGI LIPI, 1992. Laporan Penyusunan                Sumberdaya Ikan Hias di Kepulauan Seribu. Dinas Perikanan DKI Bekerjasama        dengan Puslitbang Oseanologi LIPI : 64 hal

Wikipedia.org.2010.achanturus caeruleus.fishbase